Pengertian dan Sejarah Pesantren
- Jan 26, 2020
- 3 min read
Updated: Jan 28, 2020
Pesantren berasal dari kata santri, dengan awalan pe dan akhiran an berarti tempat tinggal santri.
Pengertian Pesantren
Pesantren berasal dari kata santri, dengan awalan pe dan akhiran an berarti tempat tinggal santri. Lebih lanjut Soerganda Poerbakawatja juga menjelaskanpesantren berasal dari kata santri yaitu seseorang yang belajar agama Islam, sehingga dengan demikian pesantren mempunyai arti tempat orang berkumpul untuk belajar agama Islam. Ada juga yang mengartikan pesantren adalah suatu lembaga pendidikan Islam Indonesia yang bersifat ‘tradisional’ untuk mendalami ilmu agama Islam dan mengamalkannya sebagai pedoman hidup keseharian.
Abdul Rahman Saleh menambahkan bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang diasuh oleh seorang kiai dengan sistem penyelenggaraannya yang berlangsung dalam bentuk persekolahan atau pengajaran kitab dengan menggunakan sistem asrama dan menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan pendidikan.3 Menurut Abdul Mujib, pesantren bersumber dari kuttab yang berasal pada masa Bani Umayyah sebagai tempat belajar ilmu-ilmu keislaman. Dengan demikian pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang di dalamnya terdapat seorang kiai (pendidik) yang mengajar dan mendidik para santri (peserta didik) dengan sarana masjid yang digunakan untuk menyelenggarakan pendidikan tersebut, serta didukung adanya pemondokan atau asrama sebagai tempat tinggal para santri.
Dengan demikian maka sesungguhnya ada lima unsur pokok yang harus ada sehingga sebuah lembaga pendidikan dapat digolongkan sebagai pesantren yaitu: Pondok atau asrama. Masjid, Santri, Kiai/Ustadz, Pengajian kitab-kitab klasik.
Melalui beberapa definisi di atas maka secara sederhana dapat disimpulkan bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam klasik yang menjadi tempat tinggal para santri dengan melestarikan dan menekuni kitab-kitab klasik dibawah asuhan kiai, selain berbasis pada kitab klasik, pesantren juga membina karakter santri dengan kepribadian yang islami.
Betapapun banyak para sejarawan yang mengklaim pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam ‘konservatif’, tetapi dalam perjalanannya pesantren sesungguhnya mengalami evolusi dari berbagai aspek. Ungkapan ini bukan hanya sebatas pujian semata melainkan sangat beralasan. Paling tidak pertumbuhan dan perkembangan pesantren dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir cukup menggembirakan. Di samping itu banyaknya prestasi yang berhasil diukir oleh para santri dan kiprah mereka pasca mondok, banyak memainkan peranan strategis di masyarakat cukuplah menjadi indikator bahwa pesantren tengah mengalami transformasi pada semua lini.
Sekilas Tentang Sejarah Pesantren
Sejarah pesantren di Indonesia sangat erat kaitannya dengan sejarah Islam itu sendiri. Bila kita mengkaji fase-fase sejarah pesantren di Nusantara tampak kesejajaran dengan bukti-bukti sejarah sosialisasi Islam. Selain itu, bukti-bukti sejarah tersebut juga memperlihatkan bahwa pesantren senantiasa memiliki posisi atau peranan sejarah yang tidak pernah netral atau pasif, tetapi produktif. Ada anggapan kuat bahwa pesantren merupakan dinamisator dalam setiap proses sejarah dan perjuangan bangsa.
Menurut historisnya pesantren telah tumbuh sejak ratusan tahun yang lalu dan telah mengalami dinamika dari yang tradisional maupun yang modern. Jumlah pesantren cukup banyak di Indonesia dan masing masing memiliki ciri khas tersendiri. Meskipun tidak ada tanggal dan tahun yang pasti mengenai kapan pertama kali didirikan pesatren, sebagian besar sejarawan sepakat pesantren telah ada sejak abad ke-10 Masehi. Berkaitan dengan kegiatan pesantren dalam hal melestarikan kitab kuning, memang sangat sulit untuk melacak perkembangan teks-teks keislaman pada masa awal-awal Islam di Indonesia, yakni pada periode Syaikh Maulana Malik Ibrahim. Menurut Muzammil Qomar, sebagaimana yang dikutip oleh Mustofa Harun, baru pada masa Sunan Giri lah terdapat sedikit informasi yang bisa menjelaskan perkembangan tradisi teks di kalangan pesantren.
Pada awal perkembangannya, ada dua fungsi pesantren, yaitu sebagai lembaga pendidikan dan sebagai lembaga penyiar agama. Kendatipun hari ini telah terjadi banyak perubahan, namun kedua fungsi itu masih tetap melekat. Ini mungkin dilakukan karena pesantren mempunyai ‘wilayah sosial’ yang mengandung daya resistansi terhadap pengaruh buruk modernisasi. Di zaman kolonial dahulu, pesantren memegang peranan aktif dalam menentang penetrasi kolonialisme dengan uzlah yakni menutup diri dari pengaruh luar. Peran ini tetap dilanjutkan sampai beberapa waktu setelah Indonesia merdeka. Oleh karena sifatnya yang tertutup di masa lampau, dahulu pesantren kurang dikenal secara Nasional.
Madrasah dan Pesantren-pesantren yang pada hakikatnya adalah suatu alat dan sumber pendidikan dan pencerdasan rakyat jelata, yang sudah berurat berakar dalam masyarakat Indonesia.11 Dalam rangka konvergensi, Departemen Agama menganjurkan supaya pesantren yang tradisional dikembangkan menjadi sebuah madrasah, disusun secara klasikal, dengan memakai kurikulum yang tetap dan memasukkan mata pelajaran umum di samping agama. Sehingga murid di madrasah tersebut mendapatkan pendidikan umum yang sama dengan murid di sekolah umum.
Sepanjang sejarah, pesantren turut serta mewarnai perjalanan bangsa Indonesia. Usianya yang lebih tua sudah pasti lebih banyak ‘makan asam garam dan memberikan kontribusi bagi negeri ini. Jika ingin bernostalgia sejenak, masih segar di ingatan kita bahwa yang berperan aktif dalam mengusir penjajah dari bumi pertiwi sesungguhnya adalah para kiai dan santrinya. Mereka lah yang berani secara terang-terangan menyatakan sikap perlawanan terhadap penjajah. Hingga akhirnya penjajah berhasil diusir dari negeri ini. Tidak baik berlama-lama hanyut dalam romantika sejarah, terlepas dari itu semua, perkembangan dakwah Islam hari ini, juga tidak terlepas dari pengaruh pondok pesantren yang telah berhasil membina para kader ulama yang kemudian menyebar di setiap sudut negeri. Umat Islam sebenarnya berhutang banyak pada pesantren. Tradisi keilmuan yang tetap dilestarikan melalui kitab-kitab klasik sampai hari ini masih menjadi rujukan primer bagi para juru dakwah. Tanpa pesantren sulit rasanya menghasilkan ulama yang benar-benar mumpuni.





Comments